Anak Cowok

Cara Mudah Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Sejak Kecil

Posted on

wahok-koleksi foto gambar wallpaper hd cewek pakai tindik di hidung terbaru untuk desktop pc komputer mapun ponsel hp

Bahwa pe-de (pengertian definis singkat dari percaya diri-kbbi) itu hampir selalu dikaitkan dengan kesuksesan, tak dapat disangkal. Ia memang bekal utama dalam menghadapi tantangan hidup. Tapi bagaimana memupuknya dalam diri anak sehingga proporsional dan tepat guna?

Tiga bulan menjelang ujian akhir SMU, Wati ( Samaran-Inem-Iyem ) tampak semakin cemas. Teman-teman sekelasnya pun tak kalah cemas. Mereka terus-menerus menelepon dia untuk membicarakan bahan-bahan ujian yang dirasa sulit.

Wati juga sudah mulai meninggalkan kebiasaannya menonton TV, membaca buku-buku novel, dll. Keinginan sudah bulat, melanjutkan studi ke fakultas psikologi. Oleh karena itu ia belajar mati-matian agar hasil ujiannya baik. Soalnya, jika hasilnya jeblok, ia sulit diterima di fakultas itu.

Akibatnya, ia sering lupa makan karena terus sibuk membaca buku pelajaran sekolahnya sampai larut malam. Katanya ia juga tidak merasa lapar. Tak heran kalau berat badannya turun. Tidak hanya itu, ia juga menjadi pendiam, pemalu dan gampang uring-uringan. Kesehatannya pun mulai terganggu. Ia sering mengeluh sakit kepala, lambungnya pedih, jantung terkadang terasa berdebar-debar, dan keluar keringat dingin terutama di telapak tangan.

Keadaan ini tentu saja mencemaskan kedua orang tuanya. Ketika diperiksa oleh dokter, tekanan darahnya memang cenderung naik, detak jantungnya lebih cepat dari biasanya dan Wati tampak tidak tenang. Namun hasil pemeriksaan dokter tidak menyatakan ia mengidap sakit jantung atau tekanan darah tinggi, tetapi hanya kehilangan kepercayaan diri. Dokter menganjurkan untuk berkonsultasi ke psikolog agar rasa kurang percaya dirinya dapat diatasi.

Cara Terbaik Membangun Rasa Percaya Diri Sejak Dini
Gambaran keluhan Wati itu menunjukkan ungkapan rasa cemas bercampur tegang yang tidak disadari. Ujian yang semakin dekat, persiapan yang kurang memadai, serta keinginan untuk melanjutkan ke fakultas idaman rupanya menjadi pencetus timbulnya emosi, kemurungan serta keinginan untuk menarik diri. Beban yang dirasakan menjadikan dirinya grogi, tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya.

Beban mental acap kali memang bisa dicetuskan oleh gangguan fisik. Kondisi fisik dan kejiwaan bagaikan dua sisi mata uang, menyatu walaupun mempunyai sisi jiwa yang berbeda. Rasa ketidakmampuan serta ketidaksanggupan untuk menghadapi semua tantangan tadi menandakan bahwa Wati merasa rendah diri. Namun, karena rendah diri acap kali dirasakan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, maka seseorang yang dihinggapi perasaan ini cepat-cepat “melupakannya”, lalu mencoba mengatasinya dengan cara sebaliknya, misalnya menjadi sok tahu atau sok pintar.

Orang yang tidak percaya diri tidak hanya bisa tercetus menjadi sok tahu atau gugup dan malu, tetapi dapat pula termanifestasi dalam sikap dan perilaku berang, tinggi hati, bahkan agresif.

Percaya diri sebenarnya merupakan keberhasilan dari pengamatan “harga diri” yang dimiliki secara bertahap dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Karena masa kanak-kanak merupakan suatu proses yang terus berkembang, proses penyesuaian diri pun terjadi secara terus-menerus dan berkesinambungan. Proses penyesuaian diri dapat dikatakan berhasil bila seseorang dapat memenuhi tuntutan lingkungannya, dan diterima oleh orang-orang di sekitarnya sebagai bagian dari mereka.

Bila seorang anak merasa gagal menyesuaikan diri dan merasa ditolak oleh lingkungannya, ia akan menjadi regresif atau mengalami kemunduran. Lalu secara tidak sadar ia akan kembali ke “alam kehidupan” sebelumnya, misalnya menjadi kekanak-kanakan.

Maka reaksinya dalam menghadapi keadaan frustrasi pun terasa sangat berat, lalu tercetuslah perilaku yang menyimpang (maladaptif) seperti mudah cemas, panik, agresif atau menarik diri dari lingkungannya, seperti yang terjadi pada Wati gadis remaja tadi. Hal yang sama juga banyak dijumpai pada orang dewasa yang kepercayaan diri menjadi rendah.

Proses pembentukan rasa percaya diri sebenarnya telah dimulai sejak usia dini sekali (tiga bulan), ketika ia mulai mengenal ibunya yang selalu memberinya ASI atau makanan bila lapar. Rasa lapar pada dirinya dipersepsikan oleh bayi bahwa ia membutuhkan sesuatu yang datang dari dunia luarnya. Ia mulai merasa dirinya merupakan bagian dari lingkungannya.( Makalah Percaya Diri )

Ketika anak berusia 18 bulan, ia sudah mulai mengenali perbedaan kelamin dengan orang di sekitarnya. Menginjak usia tiga tahun, ia mulai menyadari – walaupun belum jelas – tentang objektivitas dirinya. Tubuhnya yang lebih kecil dari kakak dan kedua orang tuanya menyadarkan bahwa ada orang yang lebih tua dari dirinya. Pada usia 6 – 7 tahun mulai timbul perasaan suka dan tidak suka terhadap orang lain. Pada usia remaja, seorang anak mulai dapat menilai atau mengamati dirinya sendiri. Perkembangan tahap demi tahap ini membentuk suatu konsep diri, sebagai salah satu modal dasar dari harga diri.

Modal dasar Bangun Rasa Percaya Diri
Anak remaja atau dewasa muda selanjutnya akan mencermati dirinya untuk membandingkan keberhasilan dirinya di tengah-tengah tuntutan lingkungannya, apakah sesuai dengan harapan-harapan dan keinginan si remaja itu. Maka timbullah konsep keberhasilan yang menjadi dasar dari konsep diri, yang bertumpu pada pengertian akan harga diri.

Memang, terbentuknya watak dasar, sikap, dan perilaku serta budi pekerti, tidak terlepas dari “modal dasar” anak atau bawaan si anak sejak dalam kandungan. Namun faktor lingkungan, hasil interaksi dengan orang tua, sekolah serta pergaulan dengan teman sebaya sedikit banyak ikut melatarbelakangi watak si anak kelak.

Rasa percaya diri sebenarnya juga dapat dipupuk dengan adanya suatu keberhasilan. Misalnya, sukses secara akademik di sekolah, mempunyai banyak kawan, mendapat peranan berarti dalam keluarga atau di lingkungan kekerabatan serta seringnya mendapat suatu keberuntungan.

Keberuntungan sebenarnya bukan sekadar kebetulan, tetapi bisa dicapai melalui usaha, sikap serta perilaku si anak sendiri. Anak yang penuh kepercayaan diri biasanya dibesarkan dalam keluarga yang berciri khas otoritatif (bukan otoriter).

Otoritatif artinya orang tua mampu membina dan mendidik anak dengan memberikan keterbatasan-keterbatasan tertentu sesuai perkembangan si anak. Orang tua bersikap responsif atau tanggap terhadap permasalahan anak dan acap kali menunjukkan rasa ketertarikan terhadap hal-hal yang sedang dihadapi anaknya, misalnya musik, nyanyian, mode pakaian, yang sedang in buat si anak.

Sedangkan orang tua otoriter bersikap sebagai penguasa. Biasanya berwatak keras dengan perwujudan “hitam-putih” dengan keharusan dan larangan yang dirasakan kaku bagi si anak. Pada orang tua tipe penguasa ini biasanya hubungan dengan si anak tidak hangat, kurang afeksi, kurang kasih sayang, dan tentunya tidak akrab (berjarak). Di sini banyak ditemukan anak-anak yang kurang mempunyai Kepercayaan Diri Yang Baik.

Kepercayaan diri yang rendah juga banyak ditemukan pada anak yang berasal dari orang tua yang bersikap permisif. Di sini orang tua bersikap menyayangi dan mencintai, tapi tidak mampu mengendalikan si anak. Tidak ada target atau tuntutan tertentu dari orang tua terhadap si anak. Misalnya, asalkan si anak mendapat angka cukup, dapat menjalankan tugas-tugas sesuai dengan kemampuannya atau mampu menampilkan diri dalam pergaulan, sudah dianggap cukup. Dalam hal ini tantangan bagi si anak dirasakan kurang.

Ciri-Ciri Anak Miliki Rasa Percaya diri
Anak remaja atau dewasa muda yang memiliki rasa percaya diri kuat biasanya populer dalam lingkungan keluarga maupun pergaulannya. Ia sering diminta menjadi pemimpin kelompok, memiliki sikap mawas diri. Proyeksi ambisinya ke arah keberhasilan, sehingga masa depannya pun akan penuh keberhasilan. Rasa percaya diri secara lebih objektif dapat dinilai dari skor tinggi pada prestasi belajar, penerimaan oleh lingkungan, penampilan, dan budi pekerti.

Sebaliknya, pada anak yang gagal rasa percaya diri rendah. Ia kurang populer dalam pergaulan, lebih suka mengucilkan diri, atau jadi pembuat onar. Ia sulit berperan dalam lingkungan, bahkan mungkin seolah-olah dikucilkan di lingkungannya. Anak dengan Rasa kepercayaan diri rendah ini acap menampilkan gejala sering bersikap proyektif atau menyalahkan orang lain atas kegagalannya.

Prestasi akademiknya menurun dan akhirnya menjadi manusia berciri neuritik, yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai orang yang mudah frustrasi, agresif, murung, bingung. Dengan perkataan lain, kemampuannya menangkal berbagai stres hidup tidak efektif.

Kalau dibiarkan, anak tipe ini akan makin dirundung kegagalan dan akhirnya menjadi invalid (secara mental emosional-teori) dan dapat gagal dalam pergumulan perjuangan hidup yang penuh tantangan dan persaingan yang ketat.

Konsep pertolongan yang diberikan secara profesional dapat menggunakan dasar-dasar pengertian relief-relate-release-relearn-relax yakni meluluhkan ketegangan, bersikap pendekatan, melepaskan beban-beban mental kehidupan, memberikan pembelajaran kembali konsep harga diri dan percaya diri, dan akhirnya diharapkan akan membuahkan rasa aman, tenteram dan sejahtera, tetapi penuh semangat menghadapi tantangan hidup.

Kalau Anda merasa tidak pernah mengalami gejala-gejala seperti tersebut di atas, berarti masa perkembangan Anda telah berhasil dilalui. Hasilnya Anda dapat tangguh menghadapi masa-masa krisis yang sedang kita hadapi bersama, dengan sikap-perilaku wajar dan adaptif

Terimakasih Telah Baca Postingan Cara Mudah Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Sejak Kecil Paling Gampang silahkan dilakukan dan praktekan, Semoga Bisa Berguna Dan ber-manfaat, Baca Juga Postingan Terbaru Admin Yaitu 6 Tips Bagaimana Menawarkan Transaksi karir

Advertisements