Fakta Suku Amungme Papua Sebagai Tamu Di Negeri Sendiri

Posting Oleh , Pada
Fakta Suku Amungme Papua Sebagai Tamu Di Negeri Sendiri
wahok.com-#Cerita Dan Fakta Suku Amungme Papua Terlupakan

Jika kita telusuri mesin pencari google dan yahoo maka muncul beberapa kalimat diantaranya yaitu pakaian adat suku amungme, adat istiadata, rumah adat dan kepercayaan serta makanan khas suku amungme

Tragis benar nasib suku Amungme di propinsi Papua. Mereka seperti tamu di rumah sendiri. Mereka seperti laron yang mengerubungi gemerlap dan kemewahan PT Freeport Indonesia. Di tanah kelahirannya sendiri, di desa Banti, mereka tercampak dan gagal menikmati kekayaan alamnya yang luar biasa.

Sejak awal datangnya Freeport ke daerah suku Amungme di akhir tahun 1960-an, suku ini telah menyatakan ketidaksetujuannya. Berbagai cara ketidaksetujuan telah mereka ungkapkan, antara lain dengan menancapkan tombak dan anak panah di lokasi pertambangan, lokasi perumahan di Tembagapura, blokir jalan konstruksi untuk perumahan di Kuala Kencana, bahkan sampai meledakkan pipa penyalur konsentrat tembaga, telah dilakukan suku Amungme demikian salah satu cuplikan tulisan Tom Beanal dalam bukunya, Amungme.

Tom Beanal sendiri adalah salah seorang kepala suku Amungme yang sempat mengalami pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi di Jayapura. Ia sempat pula menjadi anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Fak-fak periode 1971 - 1982. Kini Tom Beanal masih dipercaya masyarakat sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat Amungme (LEMASA).

Namun di lain sisi, kini banyak di antara penduduk yang telah menjadi karyawan PT Freeport Indonesia, menikmati dan merasakan "sebagian" kekayaan alam milik mereka sendiri. Kondisi inilah yang semakin membuat jarak antara para penduduk yang telah bekerja di perusahaan dengan yang masih harus bergelut dalam keseharian tradisi mencari kerja masyarakat asli; bertani maupun berkebun.
Desa Banti sendiri, merupakan salah satu desa asli pemukiman suku Amungme yang sampai sekarang masih bertahan. Mata pencaharian warganya adalah bertani, bercocok tanam, ternah, dan berburu. Sebagian dari mereka ada yang berjualan kecil-kecilan di sekitar permukiman dan pusat belanja di Tembagapura.

Mereka sebagian besar menjual sayur-mayur hasil kebun. Selain itu ada pula yang berjualan pisang, ubi/singkong, labu, maupun petatas. Banyak pula yang berjualan buah pinang, yang banyak dikonsumsi masyarakat Irian yang bekerja di Freeport. Mereka memakan buah pinang sebagai semacam kebiasaan mengunyah sirih orang-orang tua di Pulau Jawa.

Anak - anak sering ke Tembagapura, baik menemani orang tua mereka berjualan, ataupun sekadar untuk bermain-main. Tembagapura - lokasi permukiman utama PT. Freeport Indonesia - menjadi semacam hiburan tersendiri bagi anak-anak kecil. Bukan saja anak-anak, namun juga para remaja atau pemuda yang belum bekerja, banyak pula yang bermain ke Tembagapura.

Mereka sering kali memanfaatkan fasilitas umum yang disediakan perusahaan seperti bermain voli, sepak bola, ataupun menonton pertunjukkan film yang memang diputar secara berkala di salah satu gedung di Tembagapura.
Fakta Suku Amungme Papua Sebagai Tamu Di Negeri Sendiri
Lihat Juga:
Banti, desa kecil yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Mimika Timur, terletak sekitar 4 kilometer dari pusat kegiatan tambang PT. Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang emas dan tembaga raksasa. Lokasinya jika ditempuh dengan kendaraan hanya sekitar 20 menit.

Medan yang berbatu dan jalur yang mengalami pengerasan jalan, tampak cukup "nyaman" untuk sebuah perjalanan ke salah satu daerah pedalaman tempat menetapnya suku Amungme. Menurut catatan Kantor Kecamatan Mimika Baru, penduduk Banti/Waa - sebuah desa kecil lainnya dekat dengan Banti - penduduknya terdiri atas 112 Kepala Keluarga yang berjumlah lebih dari 823 jiwa.

Banti berada di sekitar hutan lebat Irian Jaya. Sebagian besar wilayah hutan tersebut ditutupi oleh berbagai jenis flora yang tumbuh lebat dan ditemukan banyak jenis pepohonan. Terdapat juga berbagai jenis fauna seperti babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua, dll. Menurut Ronald G. Petocz, di wilayah hutan Irian tersebut terdapat 123 jenis mamalia dari 154 jenis mamalia yang dike nal di Pulau Irian. Selain itu juga menyimpan 411 jenis burung dari 639 jenis burung yang ada.

Sebagian kecil dari penduduk mata pencahariannya berburu, walaupun sudah menjadi aktivitas tradisional karena banyak di antara mereka yang sudah bekerja di kota sebagai pedagang ataupun di PT. Freeport. Cara mereka berburu dengan menggunakan tombak dan panah. Kadang mereka membawa anjing peliharaan.

Tempat berburu mereka di seberang Sungai Aikwa yang masih berupa hutan dan sudah resmi masuk menjadi bagian dari Taman Nasional Lorentz. Namun mereka tidak terlalu mengerti atau peduli karena mereka beranggapan bahwa wilayah tersebut adalah daerah perburuan mereka sejak dahulu.

Demikianlah Artikel Tentang kisah menarik dari dalam negeri khususnya dari ujung indonesia timur, silahkan baca juga postingan lainya yaitu Fakta Penyakit AIDS?HIV di Negara Thailand www.wahok.com foto gambar viral Daftar suku-suku dari papua iran jaya, Amungme, Arfak, Asmat, Bauzi, Dani, Ekari, Fayu, Kombai, Korowai, Koteka, Lani, Marind, Mek, Moni, Sawi, Wolani, Yali, Wamesa wah ok video asli hoax bukan
Loading...
Artikel Yang Di Bagikan Blog www.wahok.com Seperti Foto Wallpaper 3D Png, Jpeg, Audio MP3, Video Film MP4, Gambar Animasi Bergerak Gif, Simbol Logo, Terkadang Dilansir Dari Berbagai Sumber Media Lain, Hak Cipta Sepenuhnya Dipegang oleh Sumber tersebut. Jika ada Masalah Copyright Konten Postingan Fakta Suku Amungme Papua Sebagai Tamu Di Negeri Sendiri, Anda Dapat Menghubungi Kami DI HALAMAN INI
IKUTI KAMI UNTUK DAPATKAN ARTIKEL TERBARU, MAU ?


wahok.com is ranked 4.8 out of 5. Based on 10 user reviews.
Previous
« Prev Post
Copyright ©2016-2017 WAH OK
Theme by Damzaky
Powered by Kata.co.id